Menang Kalah Versi Dunia

Hormati Keputusan MK Prabowo Tetap Cari Celah Hukum

PPMI:Cetak Pengusaha Sukses Dengan Amal Shaleh

Pernyataan Forum Umat Islam (FUI) Terkait Video Wanita Membawa Anjing Ke Dalam Masjid

PEMILU 2019 : Seruan dan Himbauan Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Rabu, 26 Desember 2018

Diduga Propaganda PKI, Toko Buku di Kediri Digerebek Babinsa Koramil Pare

Diduga Propaganda PKI, Toko Buku di Kediri Digerebek Babinsa Koramil Pare




Koranmuslim.com - Dikabarkan beberapa toko buku yang diduga menjual buku propaganda PKI dan buku-buku yang berisi para tokoh PKI digerebek anggota Babinsa Koramil Pare Kediri, Rabu (26/12/2018).

Satuan Intel Kodim Kediri Jawa Timur sebelumnya telah menggerebek toko buku tersebut di Jl. Brawijaya No.24 Pare Kediri. Dalam penggerebekan, telah disita buku-buku berbau propaganda pada hari Selasa, tanggal 25 Desember 2018 Pukul 20.00 Wib.



Didapati 2 Toko buku yang berlokasi di Jl. Brawijaya Ds. Tulungrejo Kec Pare Kab. Kediri, dan ditemukan buku sejarah di masa tahun 1965, yakni; toko Buku “Abdi” telah di ketemukan Buku berjudul GERWANI KISAH TAPOL WANITA DI KAMP PLANTUNGAN sebanyak 10 Buah, toko Buku Q (Milik Ibu Rus) Ageng di Jl. Brawijaya No. 67 Pare telah diketemukan Buku yang berjudul BAYANG BAYANG PKI berjumlah 6 buah.

Buku yang berjudul BENTURAN NU PKI 1948 – 1965 (Ciptaan H. Abdul Mun’Im DZ) jumlah 10 buah, buku MENEMPUH JALAN RAKYAT DN AIDIT, jumlah 1 buku, dan buku berjudul NEGARA MADIUN? (KESAKSIAN SUMARSONO PELAKU PERJUANGAN), jumlah 1 buku.



Penggerebekan berlanjut hari Rabu (26/12/2018) dan Babinsa Koramil Pare Kediri kemudian menyita buku-buku yang disinyalir sebagai Propaganda pemecah kesatuan NKRI. (kbrtdy)
Share:

Muslim Argentina Giat Perkenalkan Sosok Rasululloh

 Muslim Argentina Giat Perkenalkan Sosok Rasululloh

muslim argentina


Koranmuslim.com - Sebagai sebuah negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di kawasan Amerika Selatan, ajaran Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat di Argentina. Karena itu, komunitas Muslim di negeri Tango ini merasa perlu mengenalkan sosok Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah Islam, kepada masyarakat Argentina.

Menurut hasil riset terbaru lembaga survei Amerika Serikat, Pew Research Center, menyebutkan bahwa Argentina memiliki 800 ribu Muslim. Namun, beberapa lembaga lainnya menyebutkan, jumlah pemeluk Islam di Argentina mencapai tiga juta orang.


Islamic Center Buenos Aires yang bekerja sama dengan Organisasi Dunia Islam, menggelar jenjang pendidikan untuk mengenalkan sosok Nabi Muhammad SAW kepada masyarakat Argentina. Sebagaimana laporan yang dirilis Saudi Press Agency (SPA) Februari 2009 lalu, jenjang pendidikan ini adalah salah satu cara untuk mengenal sosok Rasulullah SAW.

Penyelenggaraan jenjang pendidikan ini, seperti dikutip dari SPA, bertujuan mengkaji sisi-sisi keteladanan Rasulullah dalam perkara keislaman. Sehingga, diharapkan masyarakat non-Muslim di Argentina bisa mengenal secara lebih mendalam sosok manusia Agung, Rasulullah SAW.

Kedutaan Arab Saudi di Buenos Aires bertanggung jawab atas penyelenggaraan program ini. Pelaksanaan program jenjang pendidikan Islam tersebut dilakukan dalam tahun 2009 ini. Lebih dari 50 orang dari para mubaligh Muslimin, imam-imam masjid, dan para pengurus organisasi Islam di seluruh Argentina, akan mengikuti program jenjang pendidikan tersebut.(rep)
Share:

William, Tes Online yang Mengubah Jalan Hidupnya

William, Tes Online yang Mengubah Jalan Hidupnya




Koranmuslim - William, pemuda Amerika Serikat, itu masuk Islam sekitar empat tahun yang lalu. Pemuda kelahiran Dallas, Texas, ini dibesarkan di lingkungan keluarga Kristen.

"Keluargaku tidak sepenuhnya ultrareligius seperti stereotipe kebanyakan warga Texas. Kami hanya tipikal keluarga Kristen religius yang moderat," kata William menjelaskan kultur keagamaan keluarganya.


Sejak kecil, William berada di tengah lingkaran sosial yang mapan. Ia memiliki fasilitas penuh dan kenyamanan di tengah lingkungan kulit putih kelas menengah atas. Satu-satunya masalah, remaja ini terlahir dalam kondisi autis. Fungsi sosialnya terganggu. Ia sedikit canggung saat berhadapan dengan orang lain. Lantaran kondisi itu, William merasa tidak cocok dengan masyarakat di sekitarnya.

Kendati dia tidak terlalu penyendiri atau tampak seperti orang buangan, jelas William, dia tetap tidak terlalu populer. Dia kurang menaruh perhatian terhadap aspek sosial. Usianya masih terlalu muda waktu itu. Dia cenderung menghabiskan waktu sehari-hari bersama video game. "Aku hanya peduli pada video game, jauh dibanding agama," ucapnya.

Bagi William, gagasan bahwa manusia akan pergi ke surga ada dalam benaknya hanya karena dia percaya pada Yesus Kristus. Menurut dia, itu terdengar seperti ide yang bagus. Sangat keren. Jadi, ayo kita bermain video game seumur hidup, kemudian pergi ke surga. Itu yang dia angankan
Pada umur 11 tahun, benih-benih ketidakpercayaan terhadap ajaran agama yang dia anut sejak kecil mulai muncul di pikiran William. Remaja ini memiliki masalah dengan konsep trinitas. Para pemuka Kristen menjelaskan, Tuhan itu tiga, tetapi satu. William merasa itu tidak masuk akal. "Oke. Saya pikir kita memiliki satu Tuhan, bukan tiga," tegas dia.

Buat dia, konsep trinitas berarti politeisme, bukan monoteisme. Sementara, Kristen menyebut ajarannya bersifat monoteisme. William merasa sulit membayangkan aplikasi konsep itu, jadi dia menolaknya. Waktu itu, dia hanya menolak gagasannya, bukan ajaran agamanya.


Ketika William duduk di bangku SMA, dia mulai sedikit lebih peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi di dunia. Pemuda itu masuk ke ranah politik di sekolah, kemudian dia juga benar-benar mendalami agama. Alih-alih mendapatkan kembali kepercayaannya, sekarang William menolak gagasan Protestan secara umum. "Masalahnya, tidak ada satu pun sekte Kristen yang saya setuju dengannya," keluh William.

Pertama kali William mengenal agama-agama lain melalui sang ibu. Ketika dia beranjak remaja, kedua orang tuanya bercerai. Peristiwa itu menimbulkan trauma yang cukup dalam dan memaksa ibunya mencari alternatif spiritual. Seiring waktu, William pun mengalami kekosongan yang sama.

Dia rindu menemukan spiritualitas yang tepat mengisi untuk ceruk hatinya. Kedengaran konyol, tapi nyata. Ibunya merekomendasikan William untuk mengikuti tes online. Tes itu akan merekomendasikan agama apa yang paling cocok untuk si pengguna.

Meski terdengar tidak masuk akal, William duduk di depan laptop dan melakukan tes. Alangkah terkejutnya dia mengetahui bahwa Islam ada di peringkat kedua agama yang paling cocok dengan kompabilitas sekitar 98 persen. Sementara, agama pertama yang paling cocok untuknya versi tes tersebut adalah Yahudi Ortodoks
Jalan hidayah memang sulit ditebak. Kendati William menaruh ketertarikan pada Yudaisme, tidak ada yang lebih menahan rasa penasarannya dibanding Islam. Buat dia, Islam itu, seperti kata orang kebanyakan, terlalu asing. Tapi, justru nuansa asing itu yang memikatnya. "Saya sering berpikir, "Oh, ini terlihat sangat menarik," kenang William.

Jadi, William mulai melirik Islam. Dia membaca informasi di Wikipedia. Mencermati prinsip-prinsip keimanan, mencoba memahami aturan, apa yang harus dilakukan, dan mana saja yang dilarang. Dia lantas jatuh cinta dengan agama ini. William pikir banyak aturan itu yang masuk akal dan dia sepakat.


Misalnya, soal konsep ketuhanan. William sejak awal sudah percaya bahwa Yesus bukan anak Allah, bahkan bukan Allah. Dia hanya seorang guru, seorang guru yang harus kita teladani. Jadi, gagasan Yesus sebagai seorang nabi atau utusan Allah sangat tidak asing buat dia. Sesuatu yang memang dia yakini selama ini.

Detik itu juga, William memutuskan untuk mengambil Alquran. Dia mulai membaca lembar demi lembar. "Ini menakjubkan. Kitab ini menjelaskan segala sesuatu yang saya cari. Saya sepakat dengan keseluruhan ini," ujar William. Keyakinan itulah yang menuntun William untuk memutuskan masuk Islam.

Ada sebuah masjid di samping sekolah. Lelaki itu memilih mengikrarkan syahadat di sana. Selain dia tidak tahu lokasi masjid lain di Dallas, masjid itu paling mudah dia jangkau. Lokasi masjid dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki sewaktu istirahat sekolah.

Sejak masuk Islam, dia belajar untuk mencintai orang lain.
Ketika William menyampaikan pada kedua orang tua perihal keislamannya, mereka sama sekali tidak mempermasalahkan. Mereka justru antusias dengan keputusan putranya. Keduanya bergelut di bidang medis sehingga sering terpapar dengan berbagai kelompok etnis dan agama yang berbeda. Tak terkecuali, Muslim.

Kedua orang tuanya menyukai gagasan keislaman William lantaran mengira itu akan membantu putra mereka lebih peduli dan mencintai sesama. Waktu itu, William mengakui, dia termasuk orang yang benci pada orang lain (misanthrope). Tak heran, bila orang tuanya bersemangat melihat William terketuk untuk memeluk suatu agama.


"Hal utama yang berubah ketika saya masuk Islam adalah sekarang saya menikmati membantu orang banyak. Kepedulian saya dengan orang-orang jauh lebih besar daripada yang saya miliki sebelumnya," ucap lelaki itu. William tidak ingin mengatakan, dia dulunya pembenci orang lain, tapi dia dulu cenderung untuk tidak memercayai orang. Dia relatif introvert. Juga lebih egois.

Kini, sejak masuk Islam, dia belajar untuk mencintai orang lain. Belajar untuk peduli pada mereka. Belajar membantu mereka. Dan, yang terpenting, William mendapat kebahagiaan dari tindakannya membantu orang lain. "Jadi, buat saya, saya pikir ini perubahan terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya."rep)
Share:

Medsos Ibarat Pisau, Jaga Jari dan Lisanmu Saudaraku!

Medsos Ibarat Pisau, Jaga Jari dan Lisanmu Saudaraku

bijak bermedsos



Koranmuslim.com - Media sosial saat ini tak ubahnya seperti senjata tajam nan dahsyat. Ia dapat digunakan untuk tujuan dan sarana kebaikan seperti informasi kegiatan, mengabarkan segala kejadian dan bisa digunakan menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan. 

"Namun, dapat pula diarahkan untuk menistakan, mengerdilkan,  mengabaikan, menusuk dan atau bahkan membinasakan figur orang," Habib A (Abdurahmah) Rahman al-Habsyi melalui pesan hikmanya kepada Republika.co.id, Jumat (21/12).


Menurut A Rahman memang pada saat update status tidak ada darah yang tertumpah seperti halnya melukai seseorang dengan belati atau pisau. 

"Tetapi coba perhatikan, tidak jarang status ujaran kebencian yang mengundang provokasi, konflik, bahkan bertumpahan darah," ujarnya.

Maka dari itu, kata Habib, sejak dulu Islam menekankan pentingnya menjaga lisan. Bahkan Islam mewanti-wanti bahwa keselamatan insan pada saat ia pandai menjaga lisannya. Lisan cenderung menunjukkan karaktermu dan kondisi hatimu. 

"Sebaiknya lisan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat dan jangan gunakan untuk pertikaian. Pikirlah sebelum bicara atau melontarkan kata di medsos. Timbang baik buruknya terlebih dahulu," katanya.

Terkait menjaga lisan, A Rahman menyampaikan hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi. Derajat hadis ini adalah hasan. 

Dari 'Utbah bin 'Amir RA: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, apakah yang menyebabkan keselamatan itu?" Beliau SAW bersabda: "Tahanlah lidahmu (yakni hati-hatilah dalam berbicara), hendaklah rumahmu itu dapat merasakan luas padamu (maksudnya: lakukanlah sesuatu yang dapat menyebabkan engkau suka tetap berada di rumah seperti melakukan ketaatan kepada Allah SWT dan lain-lain) dan menangislah atas kesalahan yang engkau kerjakan." 

Pada pengujung pesannya, Habib berpesan,”Saudaraku.Jaga lisanmu dan jaga juga jemarimu dalam bermedsos.”(rep)
Share:

4 Tahun Jokowi, Kebahagiaan Warga Indonesia Menurun

4 Tahun Jokowi, Kebahagiaan Warga Indonesia Menurun



Koranmuslim.com - Joko Widodo menjabat Presiden Republik Indonesia sejak 20 Oktober 2014. Sejak menjabat, Jokowi aktif melakukan blusukan ke berbagai penjuru tanah air untuk memetakan persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan yang terjadi.

Mulai awal 2015, Jokowi agresif mengalokasikan anggaran di sektor infrastruktur. Anggaran meroket dari Rp 256,1 triliun di 2015 menjadi Rp 410,7 triliun di 2018. Hal ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dan meningkatkan konektivitas.

Untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, Jokowi menaikkan dana bantuan sosial untuk keluarga miskin tiap tahunnya, yakni dari Rp 6,5 triliun di 2015 menjadi Rp 19,4 triliun di 2018. Bahkan, dana bansos naik menjadi Rp 34,4 triliun di 2019.
Naiknya anggaran pembangunan hingga bantuan sosial, tampaknya berbanding balik dengan indeks kebahagian warga Indonesia (Happiness Index).

Pada periode 2015-2018, kebahagian penduduk Indonesia menurun. Berdasarkan laporan World Happiness Report 2018, variabel utama dalam penilaian terhadap 156 negara, yakni: pendapatan, harapan terhadap kesehatan, dukungan sosial, kebebasan, kepercayaan, dan kedermawanan. Ada juga variabel persepsi terhadap korupsi dan ketimpangan pendapatan (Gini Ratio). Penilaian menggunakan skor dengan skala 0 hingga 10, yakni makin tinggi skala menggambarkan tingkat kebahagian yang semakin tinggi. Penelitian ini dilakukan oleh Gallup.

Posisi Indonesia:

Tahun 2015: Peringkat 74 (skor 5,399)
Tahun 2016: Peringkat 79 (skor 5,314)
Tahun 2017: Peringkat 81 (skor 5,262)
Tahun 2018: Peringkat 96 (skor 5,093)

10 Negara Terbahagia di Dunia Tahun 2018
1. Finlandia: skor 7,632
2. Norwegia: skor 7,594
3. Denmark: skor 7,555
4. Islandia: skor 7,495
5. Swiss: skor 7,487
6. Belanda: skor 7,441
7. Kanada: skor 7,328
8. Selandia Baru: skor 7,324
9. Swedia: skor 7,314
10. Australia: skor 7,272
(kum)
Share:

Selasa, 25 Desember 2018

Mengenang Jasa Umar Mita dalam Syiar Islam di Jepang

Mengenang Jasa Umar Mita dalam Syiar Islam di Jepang


Nama Umar Mita sangat terkenal di kalangan Muslimin Jepang. Bagaimana tidak, dia merupakan bagian dari generasi Muslimin pertama Jepang sekaligus ulama senior dan penyebar dakwah Islam awal di Negeri Sakura.

Ia pun menorehkan jasa besar bagi masyarakat Matahari Terbit, yakni penerjemahan Alquran. Ya, Umar Mita merupakan penerjemah pertama Alquran dalam bahasa Jepang.


Abu Tariq Hijazi dalam artikel mengenai biografi dia, "Umar Mita: Japanese translator of Quran" dikutip dari Arabnews, menggambarkan sosok Umar Mita sebagai kebanggaan Muslimin Jepang. Nama Umar Mita merupakan yang paling menonjol di dalam sejarah Islam Jepang.

Dia lahir pada 19 Desember 1892 di Kota Chofu, Yamahguchi, Jepang. Ia mengganti nama lahirnya, Ryoizhi Mita, menjadi Umar Mita setelah memeluk Islam. Keluarga Umar Mita berasal dari kalangan Samurai. Seperti kebanyakan warga Jepang, keluarga Mita pun merupakan penganut Buddha.

Sejak kecil hingga dewasa, Mita tak pernah kenal apa itu Islam. Ia pun tak pernah bertemu dengan Muslimin. Kedatangan dakwah Islam di Negeri Matahari terbit memang sedikit terlambat dibanding negara sekitarnya
Ia baru mengenal Islam ketika belajar ke negeri Cina pascalulus dari Yamaguchi Commercial College. Saat di Cina, ia banyak berinteraksi dengan Muslimin Cina. Mita pun kemudian merasa tertarik pada Islam. Ia sempat menulis tentang Islam di Cina di sebuah majalah Jepang, Toa Keizai Kenkyu (Far -East Economic Research Journal) pada 1920. Ia tampak menyukai cara hidup Muslimin.

Mita kemudian mempelajari Islam dari Haji Omer Yamaoka, Muslim Jepang pertama yang pergi ke Makkah menunaikan ibadah haji. Setelah tahu banyak tentang Islam, Mita pun bersyahadat pada 1941 dalam usia 49 tahun.


Dia kemudian memantapkan diri menjadi Muslim kaffah. Ia pun giat mempelajari ilmu Islam dan bahasa Arab. Demi menuntut ilmu tersebut, ia pergi hingga Pakistan. Di Usia 60 tahun, Mita pun kemudian mulai mengabdikan diri pada dakwah Islam. Ia pun banyak melakukan perjalanan dakwah. Lalu pada 1958, Mita menunaikan ibadah haji.

Pada 1960, Mita terpilih sebagai presiden kedua Asosiasi Muslim Jepang. Ia menggantikan Sadiq Imaizumi yang meninggal tak lama setelah mendirikan asosiasi yang tegak pada 1953 tersebut.

Selama menjabat, Mita banyak menulis buku tentang Islam, di antaranya Understanding Islam dan An Introduction to Islam. Mita juga menerjemahkan kitab Hayat-e-Sahaba (Kehidupan Para Shahabat) karya Maulana Muhammad Zakaria ke dalam bahasa Jepang.

Penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Jepang karya Mita baru terbit pada 1972. Sebelumnya telah ada terjemahan Kitabullah yang terbit pada 1920, 1937, dan 1950.
Namun, semua penerjemahan dilakukan oleh non-Muslim. Mitalah Muslim pertama yang menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jepang. "Meskipun, setidaknya ada tiga terjemahan Quran dalam bahasa Jepang sebelum ia mulai menulis terjemahan, tetapi ketiganya dilakukan oleh Jepang non-Muslim yang tampaknya tidak memiliki perspektif 'benar' agama kami," tulis laman web Japanesse Muslim.

Mita selesai menerjemahkan pada 1968. Pada 1970, ia mengajukan revisi terjemahannya kepada Liga Muslim Dunia yang bermarkas di Makkah. Enam bulan setelah revisi, Alquran terjemahan tersebut dicetak di Hiroshima. Lalu pada 10 Juni 1972, pencetakan selesai dan terjemahan mulai diterbitkan. Hingga penerbitannya, Mita menghabiskan waktu tak singkat, yakni 12 tahun. Saat itu, usia Mita pun tak lagi muda, yakni menuju 80 tahun.


Setelah banyak menorehkan kiprah dalam perkembangan Islam di negerinya dan meninggalkan banyak warisan bagi Muslimin Jepang, Mita mengembuskan napas terakhir. Ia meninggal pada 1976 dalam usia 82 tahun. Hingga kini, karya terjemahan Mita masih digunakan Muslimin Jepang.(rep)
Share:

Pesan Ratu Elizabeth untuk Korban Tsunami di Indonesia

Pesan Ratu Elizabeth untuk Korban Tsunami di Indonesia

Pesan Ratu elizabeth untuk korban tsunami
Koranmuslim.com - Bencana tsunami yang melanda wilayah di sepanjang pesisir Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam menyedot perhatian dunia internasional. Tak terkecuali dari penguasa Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II.


Ratu Elizabeth secara khusus telah mengirim pesan kepada Presiden RI Joko Widodo dan rakyat Indonesia. Dalam pesan yang dipublikasikan di laman website resmi kerajaan https://www.royal.uk, Senin (24/12), Ratu Elizabeth menulis bahwa Pangeran Philip dan dirinya sangat sedih mengetahui hilangnya nyawa setelah tsunami dahsyat di Indonesia.

"Kami mengirimkan belasungkawa tulus kami kepada semua yang kehilangan orang yang dicintai, dan mereka yang rumah dan penghidupannya telah terpengaruh," ucapnya.

Ia menambahkan juga menghargai keberanian dan dedikasi dari layanan darurat dan relawan yang memberikan dukungan.(rep)
Share:

Kisah Para Santri Penghapal Alquran Selamat dari Tsunami

Kisah Para Santri Penghapal Alquran Selamat dari Tsunami

dampak tsunami banten

Koranmuslim.com - Tsunami yang menerjang Selat Sunda Sabtu (22/12) lalu menyimpan banyak cerita. Ribuan orang berjuang menyelamatkan diri dan keluarga mereka dari hantaman air laut yang tiba-tiba menerjang waktu istirahat mereka. Wilayah tepi pantai juga banyak digunakan sebagai lokasi berlibur oleh keluarga. Siapa sangka akan terjadi bencana besar yang mengubah hidup sebagian masyarakat di sana. 

Salah satu korban selamat dari tsunami tersebut adalah rombongan dari SMA Islam Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Serang Banten. Sebanyak 55 santri dengan rincian 30 perempuan dan 35 laki-laki menyaksikan kedahsyatan air yang meluluhlantakkan hotel dan rumah warga di sekitar pantai. Namun, melalui kesaksian salah satu guru, Ai Nuraeni, di saat kejadian tersebut ia dan anak didiknya menyaksikan kuasa Allah SWT yang luar biasa. 


Ai menceritakan, pada saat kejadian di malam hari, melalui lantai dua villa yang mereka tempati, terlihat anak Gunung Krakatau mengeluarkan api dan laharnya. Walaupun sempat khawatir, mereka tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. 

Namun, suara gemuruh tiba dan membuat dirinya bertanya-tanya. "Baru selesai hafalan setoran tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Awalnya dipikir hujan tapi ternyata enggak ada airnya, tiba-tiba dari belakang yang dekat ke pantai itu santri putra lari-lari (teriak) itu air, itu ada air. Kita sempat panik itu air apa," kata Ai menjelaskan. 


Tak lama kemudian, air tersebut surut begitu saja dan hanya menghantam pagar pembatas belakang villa. Rombongan pun memutuskan untuk berkumpul di mushala villa. Ia mendapat kabar bahwa pengelola pantai menghubungi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menanyakan apa yang terjadi. Ternyata, menurut BMKG saat itu hanya air pasang biasa. Mereka pun merasa sedikit tenang. 

"Tapi ada sedikit khawatir juga sih dari para pembina. Akhirnya kita kumpulkan saja semuanya di mushala. Kita instruksikan mereka untuk menggunakan pakaian lengkap, minimal kita siap lari," kenang Ai. 

Pada saat itu, suasana kembali hening. Suara yang terdengar hanyalah para santri yang tengah mengaji dan melanjutkan tilawah yang sempat tertunda karena air pasang tiba-tiba tadi. Ai juga mengenang, saat itu para santri begitu tenang. Ada beberapa yang wudhu dan shalat taubat, semua begitu tenang dan tidak panik. 

"Sesauatu yang mengharukan saya, terutama sikap anak-anak ketika terjadi bencana seperti itu, kita instruksikan, kita sekarang evakuasi, silakan bawa barang yang dianggap penting. Dan mereka langsung yang tercetus itu ya Alquran," kata Ai.  

Pada saat itu, pengelola hotel mengabarkan bahwa ada masyarakat yang mengungsi. Pembina pun musyawarah perlu atau tidaknya untuk ikut mengungsi. Ai menceritakan, setelah mereka berdiskusi, dua orang ustaz keluar untuk melihat kondisi sekitar. Kedua ustaz tersebut pun kaget karena lingkungan di sekitar villa telah hancur. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut mengungsi. 

"Pengungsian waktu itu kata pengurus villa ada di daerah Cipanas, pokoknya dari villa ke arah kiri. Setelah belokan evakuasi itu, akan ada dari jembatan itu sudah tidak bisa dilalui kendaraan itu. Ya itu batas amannya," kata dia.


Sebelumnya, ketika di villa mereka telah dihubungi oleh NF di pesantren. Rombongan NF dari pesantren pun telah dalam perjalanan untuk menjemput mereka. Namun, di jalan, Ai menjelaskan, rombongan NF tidak bisa masuk lebih dalam karena jalanan rusak. 

Namun, hal cukup menakjubkan terjadi. Ketika berada di lokasi pengungsian atau rumah penduduk di daerah Cipanas, tidak jauh dari situ adalah tempat rombongan dari NF yang akan menjemput berada. Akhirnya, seluruh ustaz, ustazah, dan santri berhasil keluar dari lokasi bencana dan kembali ke pesantren. 

"Jadi alhamdulillah timnya sampai ke daerah pengungsian. Lalu ada empat atau lima mobil itu. Kita lewat jalur alternatif yang melewati hutan dan kurang lebih tiga jam sampai ke pesantren," kata Ai. 

Rombongan ini sudah berada di lokasi selama satu bulan lebih sejak 18 November 2018. Rencananya, mereka akan dikarantina sampai 18 Januari 2018 sebelum berangkat ke Turki pada 23 Januari 2018. 

"Mereka adalah santri kelas 10 SMA Islam Nurul Fikri Boarding School, Serang, Banten yang mengikuti program International Education Progarm (IEP). Mereka melakukan hapalan Alquran 30 juz. Mereka adalah santri yang akan ke Turki untuk menghapal Alquran dan pengambilan sanad," kata salah satu guru SMA Islam NFBS, Andriono. 

Ia mengatakan, saat ini para santri telah berada di pesantren untuk melanjutkan aktivitas menghafal Alquran. Suasana pesantren saat ini cukup sepi karena santri lainnya tengah menikmati waktu liburan. Setelah melalui masa karantina ini, mereka akan berangkat ke Turki bersama-sama. 
Share:

Islam Budaya VS Islam Taat

Islam Budaya VS Islam Taat.
(Refleksi Kegiatan Natalan dan Tahun baruan di Tengah Komunitas Muslim)


Oleh. Idrus Abidin.
dakwah islam


Islam adalah produk Allah yang maha mengetahui maslahat manusia di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Karenanya, tidak mungkin salah, tanpa hikmah, tidak adil dan tidak full manfaat. Dunia ini adalah cerminan profesional (Ihsan) Allah dalam mencipta, termasuk kita, sekitar kita, tanpa cela. Islam demikian tercatat dalam Al-Qur'an, tertulis dalam laporan Sunnah, tersusun dalam ijma', terbentuk dalam qiyas; berdasarkan ijtihad ulama empat madzhab.

 Islam yang telah mengalami proses penyesuaian dengan budaya Arab. Sehingga Arab dan sekitarnya mendapatkan kehormatan untuk mendunia dan mengakhirat lewat formulasi Kitab suci yang berbahasa Arab dan nabi yang berkebangsaan Arab. Artinya, Arab telah menjadi bagian dari keberagamaan kita, tanpa perlu dipertanyakan lagi. Ga ada shalat tanpa Qur'an (Al-fatihah dan Surat lain) yang berbahasa Arab. Makanya, untuk mengerti al-Qur'an dan hadits, dibutuhkan pemahaman budaya Arab era jahiliah dan zaman keislaman. Karena di sanalah terjadi proses Islamisasi Arab dalam budaya dan bahasa. Sehingga shalat yang tadinya hanya berarti do'a, kini berubah menjadi istilah. Yaitu gerakan yang diawali dengan takbir lalu diakhiri dg taslim (salam). Begitu pula takwa. Awalnya hanya berarti preventif, menjadi upaya menjauhkan diri dari neraka (tameng) dg cinta, harap dan rasa takut kepada Allah. Demikian pula zakat, sedekah, ilmu dll.

Islam KTP dan Islam Gado-Gado


Tanpa proses penyesuaian dengan Islam melalui kegiatan belajar tentu susah menyatakan seseorang itu muslim sejati. Karena saat ini, budaya yang menyongsong kelahiran kita adalah budaya lokal yang terkontaminasi dengan nuansa kesyirikan. Mitos menjadi dasar keyakinan. Jampi-jampi sebagai alternatif pengobatan; termurah dan murahan. Hingga dukun-dukun sebagai referensi. Pamali seolah menjadi dasar halal haram dan sejumlah keyakinan dinamisme dan animisme lainnya. Islam baru kelihatan saat idul adha dan idul Fitri, maulidan, mikrajan, tahlilan, barzanjian dll. Ketika pengajian, belajar tajwid, belajar Sirah, tidak banyak yang nongol. Sekali pun banyak yang mengaku cinta nabi. Islam akhirnya seperti gado-gado; serba ada dan tidak ada proses seleksi dan adapsi.

Do'a Akhir Tahun VS Do'a Ma'tsurat (Pagi Petang) dan Do'a Setiap Awal Bulan.


Salah satu bentuknya adalah do'a akhir tahun. Alasannya, tidak ada larangan untuk berdo'a di setiap waktu. Padahal, do'a pagi petang dan do'a tiap awal bulan hijriah belum tentu dilakukan. Apa pentingnya do'a akhir tahun klo do'a harian dan awal tiap bulan sudah dilakukan!? Demikianlah setan mengelabui (syubhat) manusia, agar tidak mengenal jalur cepat masuk surga. Disibukkan dengan amalan2 rekaan, padahal amalan Sunnah bertebaran tiada kira banyaknya. Telah dipraktekkan nabi dan manusia terbaik di zaman emas Islam. Demikian pula setiap kreativitas ibadah baru pasti mengusir sunnah-sunnah baku.

Do'a pagi petang (amalul yaum wa al-lailah) sudah banyak dikenal orang. Beda dengan do'a ketika melihat hilal di awal-awal bulan Hijriyah, blm banyak diketahui khalayak. Inilah do'a sunnahnya :
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأمْنِ وَالإيمانِ ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإسْلاَمِ ،والتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ ، هِلالُ رُشْدٍ وخَيْرٍ
“Allah Maha Besar, ya Allah, tampakkanlah hilal itu dengan membawa rasa aman dan iman, keselamatan dan Islam, juga menghadirkan taufik ke arah yang Engkau cintai dan ridhoi. Robbku dan Robbmu (wahai sang hilal) adalah Allah. Engkaulah hilal yang membawa petunjuk dan kebaikan”. (HR. Tirmidzi no. 3451. Dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 4726.HR. Abu Dawud no. 5092.)

Islam Realitas Apa Adanya (Budaya)


Islam akhirnya dipahami sebagai apa yang ada dalam realitas ummat Islam terkini. Tidak terlihat jelas adanya upaya menjauh dari praktek syirik, kegiatan yang berbau sihir dan aktivitas budaya yang tidak diajarkan Islam. Natalan misalnya, begitu banyak pusat perbelanjaan, mall-mall, show room mobil memajang atribut natalan. Bahkan, pakaian ala sinterklas diobral habis-habisan. Termasuk topi merah putih yang khas itu.

Di akhir tahun, muda mudi dan ortu yang masih lupa diri, begitu ramai di diskotik, bar-bar, tempat rekreasi dll. Katanya, menanti pergantian tahun yang nantinya dianggap bersejarah. Tak sedikit kembang api dijadikan sarana selebrasi. Seolah bahagia itu karena akhir tahun. Padahal, dosa dan maksiat tak pernah ditangisi. Utang dan kewajiban kepada Allah tak pernah diseriusi.

Islam Ideal (Normatif); Islam Langit.


Bumi bersedih begitu perih, karena langit tak dipedulikan ketika manusia berbuat dan bertingkah laku di atasnya. Padahal, muslim yang baik; Membumi tanpa lupa visi langit. Katanya, amal yang diterima harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah. Itulah ikhlas dan mutaba'ah. Non muslim bisa saja ikhlas, tp tidak mungkin aktivitasnya mengikuti rasul, tanpa mereka masuk Islam. Itulah pentingnya prinsip la Ilaha Illallah, Muhammadun Rasulullah. Sementara, muslim bisa saja kegiatannya mengikuti Rasulullah, tapi jika nihil ikhlas apa gunanya!? Itulah kenapa Allah mengingatkan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah : 208)

Islamlah satu-satunya jalur yang benar dengan ikhlasnya dan patuhnya pada contoh praktis Rasulullah. Di luar itu, hanyalah langkah-langkah syetan. Yaitu, upaya memalingkan manusia dari jalur lurus menuju kesesatan dan ketersesatan. Dari fitrah ke arah menyimpang, tanpa ampun. Hanya orang-orang ikhlas (mukhlasin) yang bisa selamat dari penyesatan opini iblis beserta konco-konconya; yang memegang semua media, cetak maupun cetek (hehehe).

Larangan Mencontoh Praktik Budaya, Ibadah dan Tradisi Non Muslim.


Karena Islam adalah kiblat kebenaran, maka Amerika, eropa, Inggris, Jepang, China, dll tidak memiliki tempat dalam akidah dan idealisme Islam. Kalau urusan tekhnologi, bolehlah mereka dicontoh. Tapi masalah hidayah, fitrah dan khilafah kitalah pemegang lisensinya dari langit. Ga boleh kita ganti atau dioplos dengan budaya, tradisi dan agama lain. Tekhnologi dan sains masuk dalam kategori hikmah yang bisa dipungut dari mana pun selama selektif dari bias-bias mitos yang menginfeksi.

Menyerupai Non Muslim, Bentuk Rasa Cinta Dan Loyalitas (Wala') Yang Terlarang.


Islam melarang ummatnya menyerupai pihak-pihak yang jauh dari idealisme Islam. Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)

Kemiripan dari sisi hati, ucapan dan sikap merupakan indikasi kuat adanya sikap jatuh hati ke budaya lain. Padahal, cinta takkan beralih ke pihak lain, mana kala budaya sendiri dipahami dengan baik. Maka, sikap tak percaya diri dengan milik sendiri, lalu mencontek peradaban lain, bukti bahwa kita sudah terjajah secara jiwa, bahkan lidah dan fisik sekaligus. Maka, jika tak mawas diri kita pasti masuk dalam kategori ummat pembeo....
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti budaya orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sampai-sampai  jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi kalau bukan mereka dan semisalnya !?” (HR. Muslim no. 2669)

Biar tidak kepanjangan, semoga kita dimuliakan Allah dengan Taufik dan hidayahNya; dunia akhirat. Amiiiin.
Share:

Senin, 24 Desember 2018

Gereja Tak Mengenal Natal

Natal di Mata Teolog Kristen Oleh ABU DEEDAT SYIHAB

Gereja Tak Mengenal Natal 

dakwah islam


Natalan dan tahun baru  Bukan Milik Yesus, tapi Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir


             Natal dan paskah sudah menjadi tradisi dan ibadah dalam agama kirsten, walaupun tahu Yesus itu tidak lahir  tanggal 25 Desember. Menurut  pandangan  kristen sejati  alias kristen saksi Yahova  mengatakan  sebagai berikut   2):

Tidak semua kepercayaan dan kebiasaan adalah buruk. Namun  Allah tidak memperkenankan semua itu jika  hal-hal tersebut berasal dari  agama  palsu atau  bertentangan dengan  ajaran  alkitab,  ( Matius 15 : 6.)
Tritunggal : Apakah Yehuwa suatu Tritunggal- tiga pribadi dalam satu Allah ? Bukan ! Yehuwa, sang bapak,” satu-satunya Allah yang benar “ Yohanes 17 :3, Markus 12 : 29 ). Bapak lebih besar daripada Putra ( Yohanes 14 : 28 )
Natal  dan Paskah : Yesus tidak lahir pada tanggal 25  Desember. Ia lahir kira-kira tanggal 1 Oktober  , masa untuk para gembala menjaga kawanan domba mereka diluar kandang pada malam  hari ( Lukas 2 : 8-12 ).
Yesus tidak pernah memerintahkan orang kristen untuk merayakan kelahirannya. Sebaliknya, ia memberi tahu  murid-muridnya untuk merayakan atau memperingati kematiannya ( Lukas 22 : 19-20. )

Natal  dan kebiasaan-kebiasaannya berasal  dari  agama-agama  palsu zaman purba.


Sama halnya  dengan  kebiasaan-kebiasaan Paskah  seperti digunakannya  telur  dan kelinci. Orang kristen  masa  awal tidak merayakan natal atau paskah, demikian juga orang kristen sejati (Kristen saksi Yehova .pen) dewasa ini.

        Hari Ulang tahun :  Kedua perayaan hari ulang tahun yang disebutkan  dalam alkitab diadakan oleh orang-orang yang tidak beribadat kepada Yehuwa. (Kejadian40 : 20-22 ; Markus 6 : 21-22, 24-27 ). Orang kristen masa  awal tidak merayakan ulang tahun. Kebiasaan merayakan hari ulang tahun berasal dari  agama-agama palsu zama purba.

      Lambang Salib berasal dari agama-agama palsu zama purba. Salib tidak digunakan atau disembah oleh orang-orang kristen masa  awal.  Jadi, apakah benar saudara pikir adalah benar untuk menggunakan sebuah  salib dalam ibadah ?  (  Ulangan 7 : 26 , 1 Korintus 10 : 14 ).

         Siapa yang mengucapkan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, kebid'ahannya, dan kekufurannya berarti dia menantang kemurkaan Allah....

Para ulama yang wirai (yang selalu meninggalkan sesuatu yang bisa membayakan agamanya) menghindari ucapan selamat kepada pemimpin dzalim dan ucapan selamat memegang jabatan hakim, pengajar, dan fatwa kepada orang bodoh, karena menjauhi kemurkaan Allah dan dipandang rendah oleh-Nya." (Ahkam Ahlidz Dzimmah, 1/144-244)

Fatwa MUI Tanggal  7 Maret 1981; Natalan Bersama  hukum nya Haram.

·                Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal ibadah dan akidah

·                 Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

·                Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT   dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Kesimpulan :

·         Natal  dan Paskah berasal  dari agama-agama palsu zaman purba.

·         Perayaan natal di dalam gereja sebagai pengganti perayaan penyembahan dewa matahari ketika kaisar Constantine masih   orang kafir.

Sumber Rujukan  :                                                                               

-      1 )  J. Karuniadi dalam buku  berjudul “ SEKITAR  NATAL  “ hal   6  :  Apakah yang  Dikatakan Alkitab tentang  Natal ?

-       2) Sumber buku Kristen “ Apa yang Allah Tuntut dari Kita ? Penerbit ‘ watch Tower @ 1996, hal 22-23
Share:

Khusyu', Puncak Kejernihan Iman

Khusyu', Puncak Kejernihan Iman

artikel islam

Oleh. Idrus Abidin

Khusyu' adalah kondisi saat keagungan Allah tersingkap begitu mengagumkan dalam jiwa manusia. Biasanya hadir saat kita banyak bermuhasabah dengan bacaan-bacan islami, nasehat-nasehat spiritual. Saat kita melanglang buana dalam Rububiyah, mentadabburi nama-nama dan sifat-sifat Allah; hingga hati terpesona dalam uluhiyahNya. Cinta makin nambah, optimisme akan rahmatNya kian tiada Tara. Bahkan, potensi AzabNya tergiang-ngiang di telinga hingga kita mengucurkan air mata.

Subuh di Jum'at ini, di waktu Madinah mulai saat jam 05.30. Imam dengan syahdunya melantunkan surah sajadah. Seolah bacaan itu mengaduk-aduk jiwa, dengan beragam fakta keesaan Rububiyah, fenomena uluhiyah hingga ancaman untuk mereka yang tak mau berubah; dari maksiat ke tha'ah, dari khianah jadi amanah, hingga jiwa tak lagi durhaka.

Bahkan kiamat dihadirkan, saat ahli maksiat baru mau taat, ketika pendosa baru yakin atas semua titah rabbul 'alamin. Namun, apa daya, iman itu tak lagi bermakna. Yaah.... mereka dilupakan Allah secara sempurna. Karena telah lalai dan lupa diri dari Allah saat di bumi ini. Berlarian mereka kepingin keluar dari neraka. Tapi kata Allah, mereka ditarik kembali ke kerak neraka. Naudzubillah.

Fakta bahwa penentang di masa lalu telah hilang. Ada yg ditelan bumi layaknya Qarun. Ada pula yang ditenggelamkan laut dengan kejam. Hujan banjir yang menyapu bersih pelaku dosa. Bahkan, suara pekak yang mematikan. Semua itu tidak menjadi pelajaran bagi mereka yang lalim dan lalai. Terus saja mereka mereproduksi maksiat, melawan mereka yang masih taat.

Akhirnya, ketika semua gambaran penduduk surga beserta amalan dan potensi surganya diangkat;  hati ikut bersujud saat ayat 15 tiba, diikuti sujud fisik semua jamaah; seketika.

Fenomena iman dan gambaran maksiat itu belum berakhir. Di rakaat kedua, sang imam memilih surah al-Insan. Dibuka dengan pertanyaan retoris yang menyayat hati. Bukankah dulu manusia mati (tidak ada)?!, Lalu diadakan dari mani, untuk sebuah ujian imani.

Maka kata Allah, dengan telinga dan mata pun mereka dibekali. Agar jalan sesat dan Jalur taat pun tak lagi tertutupi; oleh  syubhat dan kepungan syahwat. Surga pun beserta pesona nikmatnya dibahas sedemikian rupa beserta amalan-amalan penghuninya. Tak henti rasanya hati ini berkata, jadikan aku bagian dari mereka ya Allah.

Pelayan Mereka saja adalah remaja-remaja, yang jika ditatap dengan mata kepala; seolah Kilauan nikmat tak biasa itu layaknya permata lu'lu yang bertaburan. Pesona kerajaan Allah yang agung telah melingkupi mereka, hingga dengan menatap mereka saja sudah melarutkan kita dalam nikmat tiada kira. Itulah balasan Allah padamu atas dedikasi amal dan usahamu yang disyukuri Allah. Maka sabarlah dalam jalan ini dan jangan sesekali kamu dengar apa lagi taat pada mereka para pendosa dan penikmat kekufuran.....(QS al-Insan : 22-24).

Madinah Nabawiyah;  Jum'at, 21 Desember 2018.
Share:

Selasa, 11 Desember 2018

Pencitraan (Hoaks), Nifaq Modern

Pencitraan (Hoaks) , Nifaq Modern



Oleh. Idrus Abidin.

Nifaq adalah penyakit hati yang berawal dari kedengkian terhadap Islam, Rasulullah dan semua pengikutnya yang berusaha berislam secara total. Awalnya menimpa Abdullah bin Ubai bin salul. Sebabnya, dia disepakati oleh penduduk Madinah; Aus dan Khazraj sebagai pemimpin tertinggi Madinah (raja) sebelum kedatangan Rasulullah.

Namun, suasana begitu cepat berubah disebabkan oleh adanya 6 orang Madinah yang menunaikan ibadah haji dan terpincut dakwah Rasulullah.  Mereka inilah cikal bakal muslim Madinah yang didik oleh da'i pertama Madinah, Mus'ab bin Umair.  Mereka ini pula dalang di balik hijrahnya Rasulullah ke Madinah, yang membuat kejang-kejang Abdullah bin Ubai; sang gembong munafik. Bahkan, Islam berkibar dengan cepat di kota ini hingga anak dan istri Abdullah pun menjadi kader dan pentolan Islam.

Biodata Abdullah bin Salul (Gembong Munafik)

Lahir dan besar di Yatsrib (Madinah). Keahliannya, pimpinan tertinggi suku Khazraj, ahli pidato, punya leadership yang kokoh, kaya karena berbisnis dg kalangan Yahudi Bani Qainuqa. Bahkan, dialah tokoh yang direkomendasikan Yahudi sebagai pilihan tepat agar kepentingan bersama antara Yahudi dan orang-orang Arab Madinah bisa berjalan mulus.  Bahkan, Yahudi terus mem-backup Abdullah secara ekonomi dan politik demi maksud dan tujuan lebih besar. Status,  menikah. Memiliki  beberapa anak, termasuk sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin salul. Sahabat yang terkenal baktinya kepada kedua orangtuanya. Kedudukan politik, tokoh pertama dan terakhir yang disepakati suku Aus dan Khazraj sebagai raja. Walaupun takdir berbicara lain.
Sepak terjang Abdullah bin Ubai.

Demi untuk memuluskan rencana busuk dan mengungkapkan kedengkiannya, Ibnu salul memanfaatkan beragam kebohongan. Sehingga sikap ini menjadi sikap resmi dalam madrasah intelektual munafik. Selain itu, pengkhianatan, perselingkuhan dengan kekuatan politik luar dan beragam strategi dilancarkan.

Pencitraan (Hoaks) adalah modal utama kemunafikan.


Karena berhadapan dengan Islam yang ajaran dasarnya adalah keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, maka kata kunci ini menjadi password penting bagi kaum munafik untuk terus melakukan pencitraan (kebohongan dan ketidakjujuran)  demi merusak Islam dari dalam dan bisa menyelamatkan diri dari  berbagai masalah. Termasuk dalam hal ini, bersumpah penuh kepercayaan diri bahwa mereka adalah muslim orisinil. Walaupun kenyataannya, segala keburukan merekalah sumber dan pionirnya. Seperti :
1. Menghina Rasulullah secara pribadi. Seperti, ketika Rasulullah lewat dg kendaraannya, Ibnu salul berkomentar penuh dengki, "Jangan ganggu kami dengan debu kendaraanmu" tapi dimaafkan oleh Rasulullah atas saran Sa'ad bin Ubadah. Ini terjadi sebelum perang Badar.

2. Tidak sepakat dg usulan pemuda agar perang dilakukan di luar kota ketika diadakan musyawarah sebelum perang uhud. Dia ingin perang dilakukan di dalam kota saja sesuai harapan kalangan senior.

3. Mundur bersama 300 orang pasukan sebelum sampai ke wilayah Uhud. Akhirnya pasukan muslimin tinggal 700 personil dari total 1.000 orang, menghadapi 3.000 pasukan Quraisy. Alasannya, rasul tidak mendengar sarannya. Lebih mendengar kalangan mudah dan merasa perang Uhud itu hanya bunuh diri. Inilah fase awal munculnya gerakan Nifaq secara otonom di bawah pimpinan Abdullah bin Ubai. Alasan hanya dibuat-buat agar selamat, padahal hakikatnya adalah pencitraan demi mencari popularitas (jabatan), menyembunyikan sikap dualisme (Nifaq) dan tampil berbeda agar mudah dikenal (berbedalah supaya engkau terkenal).

4. Membela pengkhianatan Yahudi Bani Qainuqa ketika perang Ahzab.

5. Di perang Bani Qainuqa, setelah Rasulullah memenangkan peperangan, beliau beristirahat di wilayah Muraisi. Ketika ke sumur, ada 2 orang pasukan berebut air; Jahja al-Gifari (budak Umar bin Khattab) dan Sinan al-Juhani. Mereka bertengkar hingga Sinan berteriak minta tolong. Ibnu salul mendengar kejadian ini lalu berkomentar dg penuh emosi di hadapan kaum munafik, "sungguh kalangan Muhajirin itu telah merecoki kami sebagai penduduk Madinah. Kita dan mereka seperti kata pepatah, gemukanlah anjingmu, lama kelamaan dia sendiri akan menerkammu. Nanti kalau kita pulang ke Madinah, kita yang terpandang ini akan mengusir orang-orang hina itu (Rasulullah dan kaum Muhajirin). Inilah hasil perbuatan kalian. Kalian menyerahkan negeri ini ke mereka. Bahkan harta kalian pun dibagi dg mereka. Jika kalian memboikot mereka, pasti mereka pergi mencari tempat lain." Inilah ungkapan kedengkian yang terus diproduksi Ibnu salul di setiap momen yang ada.

6. Sumber fitnah pada peristiwa hadits ifki (hoaks) yang merusak citra keluarga Rasulallah (Aisyah).

7. Pembangunan masjid Dhirar sebagai markas untuk memerangi kaum muslimin dari dalam, 
dibiayai oleh kepentingan Romawi, sesaat sebelum pemberangkatan kaum muslimin ke Tabuk untuk perang melawan tentara Romawi. 

8. Dll.

Fenomena Nifak;  dulu hingga Sekarang.


Nifaq selalu tampil dengan gaya yang sama; dulu dan sekarang. Seperti utamanya:

1.  Loyal kepada musuh Islam dan membenci Islam dan semua simbolnya. Walaupun merasa diri muslim orisinil. Bahkan didukung dengan sumpah yang mempesona, tampilan fisik yang serba mewah dan alasan2 yang penuh hoaks.

2. Mengaku reformis sejati. Padahal mereka sumber kerusakan dan awal malapetaka (pertumpahan darah) melalui tehnik adu domba.

3. Menghina kaum muslimin dengan beragam tuduhan. Radikal, keras, anti NKRI (merecoki Madinah), trans nasional (kaum Muhajirin di era nabi). Nyinyir terhadap aksi 212, menganggap kaum muslimin yang lebih kuat imannya banyak yang tidak terlibat di 212. Padahal, ketidakhadiran secara fisik bukan jaminan bahwa mereka tidak hadir secara semangat (niat). 
Semoga kita diselamatkan dari Nifaq ideologi dan Nifaq praktis (Amali) dengan hidayah dan Taufik dari Allah. Amiiiin.
Share:

Puncak Kecemerlangan Iman (Cinta Akhirat Dan Tak Takut Mati)

Puncak Kecemerlangan Iman (Cinta Akhirat dan Tak Takut Mati)

Oleh. Idrus Abidin.
Perkara iman merupakan kunci kehidupan. Tanpa iman, manusia hanyalah mayat hidup tak tentu arah, tanpa tujuan. Kalau bukan karena iman, hidup ini gelap gulita, tak bercahaya. Kalau tidak karena iman, hidup ini dipenuhi dengan kebodohan. Sekali pun manusia sudah tiba di bulan.
Iman, Hasil Pengetahuan.

Iman itu bertumbuh dan berkembang dengan siraman pengetahuan. Pertumbuhan dan perkembangan iman inilah yang disebut barakah. Dia pula yang disebut tazkiyah. Allahlah objek utama pengetahuan. Sehingga ketika keagungan Allah tersingkap dalam segala bentuk IhsanNya (Rububiyah) maka terwujudlah kebesaranNya. Di sinilah manusia tiba2 merasa kerdil dan merasa bersalah penuh penyesalan. Itulah taubat. Makanya, Allah berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

“Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah dan memintalah ampun atas dosamu.”(QS. Muhammad : 19)

Artinya, penyesalan atas dosa terkait dengan pengetahuan akan keagungan dan kebesaran Allah. Ini juga menunjukkan, ilmu itu wajib sebelum berucap dan beramal. Karena ilmu itu adalah iman (kepercayaan/keyakinan dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan seluruh anggota badan). Hal ini juga menegaskan, ilmu tak berguna tanpa iman.
Iman Dan Sikap Konsisten (Istiqomah)

Ilmu terus mengasup jiwa dengan iman. Sehingga manusia terus melakukan penyesuaian diri dengan Islam. Bahkan, terus meningkat secara signifikan ke tangga iman hingga menjadi orang-orang bertakwa. Orang-orang bertakwa adalah orang-orang Istiqomah dalam berislam. Mereka adalah hasil cetakan, ukiran dan celupan Allah di bumi (sibgatullah). Setiap orang bertakwa pasti beriman. Namun, tidak semua orang beriman itu bertakwa.

Tingkat ketakwaan bermula dari sikap konsisten melaksanakan semua kewajiban Islam ditambah dg beberapa amalan Sunnah; sekali pun belum dilakukan secara rutin. Inilah kelasnya orang mukmin. Mereka dikenal dengan istilah Abrar, ashabul Yamin, muqtashid dalam Al-Qur'an.
Ada lagi kelas ketakwaan tertinggi, Ihsan namanya. Yaitu kelas ketakwaan orang-orang yang menyembah Allah penuh kerinduan, cinta dan harapan akan posisi tertinggi di akhirat kelak. Atau kelasnya orang-orang yang merasa diawasi sepenuhnya oleh Allah (muraqabatullah) sehingga takut berdosa  (khauf) dan terpicu untuk  beramal dengan tingkat profesional yang tinggi. Mereka dalam istilah Al Qur'an disebut sabiqun, Muhsinin dan shadiqun.

Ketika Akhirat Jauh Lebih Menarik di Banding Dunia.

Bagi mereka yang sampai ke kelas takwa demikian, akhirat menjadi standar segala hal yang ada di bumi ini. Hitungan-hitungannya menjadi sangat ukhrawi. Orientasinya makin ke depan dan fokus mencari apa yang ada dalam genggaman Allah. Mereka lebih meyakini apa yang ada di sisiNya dibanding apa yang di ATMnya sendiri. Mereka lebih memilih yang lebih kekal dibanding hal-hal duniawi yang bersifat sementara.

Taat Lebih Mudah, Khusyu' Lebih Terasa.

Mudahsusahnya sesuatu tergantung iman. Makkah Madinah terhitung jauh secara jarak, tapi dekat di hati orang-orang beriman. Setiap shalat Ka'bah selalu menjadi fokus utama, tempat yang menjadi kiblat kebenaran di dunia ini. Di atasnya ada kiblat langit, Baitul makmur namanya. Segala upaya dan usaha dilakukan muslim demi bertatap muka dengan Ka'bah, Mekah dan Madinah. Karena semua itu menyimpan jejak rekam spiritual sepanjang sejarah kebenaran.

Dimudahkannya ibadah (sanuyassiruhu Lil yusraa) berawal dari sikap dan kesiapan berkontribusi terhadap Islam dengan hati, lidah dan fisik; dengan harta, tahta dan jiwa (a'thaa) dengan penuh ketulusan dan keikhlasan (wattaqaa) karena meyakini adanya surga (shaddaqa BI al-Husnaaa).
Sedang Khusyu' adalah gambaran jiwa orang-orang beriman dan bertakwa yang merindukan Allah dengan penuh harap kepada rahmat-rahmatNya, dg dilapisi rasa takut padaNya; dalam setiap gerak gerik kehidupan.

Saat Kematian Tak Lagi Menakutkan.

Ketika Khusyu' makin terasa, kematian terasa semakin dekat. Anehnya mereka tidak merasa takut dengan kematian itu. Bahkan, terkadang mereka merindukannya sepenuh hati. Karena sadar bahwa segalanya berawal dan akan berakhir di situ. Terkubur dalam nikmatnya nuansa barzakh, yang menghilangkan penat selama berjuang penuh tanggung jawab di dunia. Yaah.... kuburan memang tempat peristirahatan bagi mereka yang telah beribadah dengan penuh amanah.
Kewajiban Terasa Lebih Banyak Dibanding Umur yang Tersedia.

Jadinya, mereka menjadi manusia sadar akan tanggung jawab dan merasa betapa kewajiban sebagai orang bertakwa jauh lebih besar dibanding jatah hidup yang tersedia. Inilah orang-orang yang tau diri dan mengerti akan tugas, sehingga mendahulukan tugas dan kewajiban dibanding menuntut hak2 yang tidak terkait dg akhiratnya. Inilah alasan kenapa nabi Ibrahim memohon agar dikirim Rasul kepada setiap generasi setelah beliau wafat. Inilah bentuk visioner seorang nabi unggulan. Ini pula yang dilakukan oleh Rasulullah sebelum meninggalnya. Yakni, sebelum dicabut roh yang mulia itu, dia menanyakan dan meminta jaminan keamanan untuk ummatnya kepada Allah melalui Jibril. Maka, saat Jibril mengangkat sayapnya sebagai jaminan, Rasulullah pun ikhlas kembali ke haribaan kekasihnya; Allah SWT. 

Dengan sejumlah karakter di atas, pantaslah ummat Islam di masa Rasulullah menggetarkan jiwa-jiwa Persia dan Romawi; super power di zamannya. Mereka adalah orang-orang merdeka; jiwa dan raga. Mereka adalah artis-artis kebenaran yang jauh lebih terkenal di langit dibanding di bumi. Nama-nama mereka dihapal mati oleh malaikat karena jiwanya terus menggema di Arasy Allah.
Kegagalan Iman; Cinta Dunia dan Takut Kematian.

Saat ini, Islam masih trauma dengan penjajahan masa lalu. Penjajahan yang telah melucuti iman dari jiwa, raga dan tahta. Bahkan, dihapus dari pengelolaan negara dan sumber daya.  Walaupun kini secara umum, banyak perbaikan-perbaikan yang patut diacungi jempol kesyukuran. Terutama prestasi 212 dalam menggalang semangat ukhuwah lintas organisasi keislaman. Berhasil rekonsiliasi ekonomi keummatan dg 212 mart dan sejenisnya. Berjaya dengan kesadaran diri akan pentingnya kebersamaan dalam menolak beragam tuduhan dan cibiran dari Jiwa-jiwa yang sakit, entah kapan sembuhnya.
Yang jelas, selama cinta dunia masih menggoda insan-insan Indonesia. Selama kematian masih sangat menakutkan dibanding hilangnya iman dan takwa, maka selama itu pula penyakit wahn akan bercokol; merintangi jiwa dari kemuliaan dunia akhirat. Sehingga penjajah berwajah manis dan bertutur lembut tetap digdaya mengangkangi kedaulatan Islam Indonesia. Kenapa kata Rasulullah?! Cinta dunia dan takut mati. Itulah penyakit wahn. Semoga kita selamat darinya. Amiiiin. (Sinopsis Buku Jalan Takwa, Terbitan Amzah Jakarta)
Share:

Rabu, 14 November 2018

Sebut Bendera Tauhid Bendera Teroris, Abu Janda Dipolisikan

abu janda dilaporkan

Koranmuslim.com - Permadi Arya alias Abu Janda dilaporkan ke polisi lantaran dinilai menistakan kalimat tauhid. Pelapor Abu Janda, Alwi Muhammad Alatas menegaskan bahwa dalam sebuah video yang tersebar, Abu Janda menyebut bahwa bendera tauhid adalah bendera teroris.

“Dalam sebuah video, Permadi Arya mengatakan ‘fix ini bendera teroris bukan panji Nabi’. Postingan tersebut sangat menyakiti serta menyerang kepercayaan dan keyakinan yang saya yakini. Dan ini penistaan,” katanya kepada Kiblat.net di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat pada Rabu (14/11/2018).

Alwi menegaskan bahwa kalimat tauhid haruslah ditinggikan dan disucikan dimanapun dia berada, termasuk bila dituliskan dalam bendera. Menurutnya, kalimat tauhid tidak boleh dihinakan dan direndahkan.

“Apalagi dihina sebagai bendera teroris seolah bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah identik dengan tindakan terorisme yang merupakan tindakan kriminal. Ini sangat menyakitkan,” paparnya.

Maka, ia meminta pihak Kepolisian Republik Indonesia untuk segera memproses dugaan tindak pidana ujaran kebencian dan penistaan agama yang dilakukan Permadi Arya.

“Karena jika berlarut-larut ditakutkan akan memicu konflik sosial yang kita semua tidak inginkan,” pungkasnya. (kiblat)
Share:

Senin, 12 November 2018

Menag Tegaskan Kartu Nikah Bukan Penghapus Buku Nikah

Kemenag RI

Koranmuslim.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa kartu nikah yang akan diterbitkan oleh Kementerian Agama bukan untuk penghapus atau pengganti buku nikah. Penegasan ini disampaikan Menag menjawab kerisauan masyarakat yang viral di media sosial bahwa rencana kartu nikah untuk menghapus keberadaan buku nikah yang selama ini menjadi bukti sah dari proses pernikahan.
"Keberadaan kartu nikah itu implikasi logis dari pengembangan sistem aplikasi manajemen pernikahan atau yang disebut SIMKAH. Kartu nikah bukan sebagai penganti buku nikah. Buku nikah tetap terjaga dan tetap ada. Karena itu adalah dokumen resmi. Ini adalah tambahan informasi dalam rangka agar lebih memudahkan setiap warga  masyarakat untuk bila suatu saat diperlukan data-data kependudukan dan status perkawinannya," kata Menag kepada awak media usai meluncurkan program beasiswa santri dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama Menkeu Sri Mulyani di Auditorium KH.M Rasjidi Kemenag RI, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Senin (12/11).
Dalam kesempatan tersebut, Menag meminta kepada awak media untuk bisa memahami konteks di balik recana penerbitan kartu nikah tersebut. Intinya lanjut Menag, Kemenag sangat serius membenahi peristiwa pernikahan di tengah masyarakat dan sangat prihatin terhadap angka kekerasan dalam rumah tangga serta perceraian yang semakin tinggi.
Menurut Menag  keluarga adalah unit terkecil di tengah masyarakat. Karena itu ketahanan masyarakat dan ketahanan nasional sangat tergantung dari unit terkecilnya, yaitu ketahanan keluarga. Salah satu hal yang dilakukan Kemenag selain membuat silabus, kurikulum bimbingan perkawinan dan pendidikan perkawinan, juga membangun sistem informasi manajemen pernikahan berbasis aplikasi digital. 
Menag menambahkan, semua peristiwa pernikahan itu pencatatannya terintegrasi dalam sebuah sistem aplikasi yang dinamai SIMKAH yang nanti dikaitkan dengan data kepedudukan dan catatan sipil dibawah Kemendagri. Sehingga, seluruh data kependudukan setiap warga bisa terintregasi dengan baik. 
"Dalam SIMKAH inilah kemudian upaya kita untuk mempermudah pencatatan, registrasi dan memantau pernikahan setiap warga negara di mana, kapan dan seterusnya. Sehingga, kita memerlukan adanya kartu nikah. Kartu nikah juga tidak ada kaitannya dengan wajib atau tidak memiliki. Ini upaya dan fasilitasi sebagai sebuah terobosan dari Kementerian Agama yang berkaitan dengan dukcapil dan data kependudukan. Harapannya semua kita pasti akan memiliki kartu ini secara bertahap," ujar Menag.
Menag juga sempat memperlihatkan contoh kartu nikah kepada awak media yang berisi dua foto dari pasangan yang menikah. Di bawah kartu tersebut terdapat barcode yang bila di scan lalu kemudian muncul data dari pemegang kartu secara lengkap.      
 "Ini akan kita terbitkan pada pertengahan atau akhir November. Bagi mereka yang melangsungkan pernikahan setelah launching SIMKAH, tentunya akan memperoleh kartu nikah. Seperti biasa pernikahan dicatat oleh penghulu hingga terbit buku nikah yang bersamaan dengan kartu nikah. Jadi kita prioritaskan bagi mereka yang menikah setelah diluncurkannya aplikasi SIMKAH," tandas Menag. 
Ditambahkan Menag, program ini merupakan uji coba dan Kemenag akan mencetak sebanyak 1 juta kartu nikah atau  bagi 500 ribu pasangan. Pada 2019 mendatang Kemenag akan memperbanyak penerbitan kartu nikah dengan melihat perkembangannya. 
Menag berharap penerapan pada tahap awal ini di mana selesai cetak secara keseluruhan pada 14-15 November, lalu dalam sepekan kemudian baru bisa didistribusikan ke sejumlah daerah di Indonesia. 
"Bagi yang sudah menikah sebelum peluncuran SIMKAH pada prinsipnya dia bisa memiliki kartu hanya saja dari segi waktu sangat terkait dengan ketersedian kartu di masing-masing KUA. Pada prinsipnya semua warga yang sudah menikah dimungkinkan untuk mendapatkan kartu nikah," tutup Menag.(kemenag)
Share:

Generasi Milenial, Hijrah Fest: Muslim Tanpa Masjid?

hijrahfest generasi milenial

Koranmuslim.com - Pada masa reformasi pada 1998 dahulu, ada sebuah istilah yang begitu populer dari mendiang budayawanan, sejarawan, dan pengamat sosial keagamaan, DR Kuntowijoyo. Dia memperkenalkan istilah untuk menjelaskan sebuah fenomena dari lahirnya generasi baru Muslim Indonesia. Kuntowjoyo mengistilahkan dengan sebutan: 'Muslim tanpa masjid".


Bagi banyak orang memang mungkin ini hanya sebagai hasil amatan yang dianggap sebagai angin lalu. Tapi kalau mencermati perubahan sosial yang terjadi di masyarkat Muslim Indonesia masa kini, maka pisau analisis tersebut sangat yahud, bernas, serta bermakna. Apalagi kemudian dipakai untuk menjelaskan posisi anak muda Muslim di tengah arus perubahan mondial atau yang kerap disebut globalisasi.

Kuntowijoyo dengan sederhana menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah Muslim tanpa masjid itu. Dia secara singkat ingin mengatakan bahwa munculnya kelompok sosial muda ini cukup unik. Mereka memang juga seperti kebanyakan orang Islam lainnya, Namun pada saat yang sama mereka  merasa bahwa dirinya bukan bagian dari umat itu sendiri. Mereka lebih memilih pada satuan-satuan lain yang bukan umat, seperti negara, daerah, bangsa, partai, ormas, kelas, usaha dan sebagainya.

Bukan hanya itu, Kuntowijoyo menjelaskan bila pengetahuan agama generasi ini juga memadai. Namun pengetahuan mereka tidak di dapat dari lembaga pendidikan 'konvensional' seperti generasi sebelumnya seperti masjid, pesantren atau madrasah. Pengetahuan dan pemahaman mereka berasal dari berbagai sumber lain dari sumber anonim, seperti kursus, seminar, buku, majalah, kaset, CD, VCD, internet, radio dan televisi. Akibatnya,  kata Kunto, kenyataan ini merupakan  sebuah kenyataan yang harus dibayar mahal oleh Islam di Indonesia dari munculnya fenomena kehidupan 'urban society' (manusia perkotaan) dari generasi yang lahir pada masa berikutnya.


Nah, pada masa kini generasi inilah yang disebut akrab disebut angkatan muda kekinian yang di kalangan Muslim masa kini disebut generasi Muslim milenial. Jadi hadirnya generasi ini memang sudah proses sejarah yang panjang yang disebut, misalnya oleh mendiang DR NUrchlosih Madjid sebagai santrinasi Indonesia sebagai konsekuensi hasil pendidikan yang dikenyam oleh Muslim seiring datangnya kemerdekaan.

Generasi ini memang generasi baru. Jadi bila Cak Nur mengatakan pada tahun 1990-an, orang muslim sudah naik kelas dari posisi 'ujlah' (memisahkan diri) dari hiruk pikuk proses kenegaraan serta tak mengecap sekolah 'modern', maka kemudian berubah menjadi pemilik negeri dengan begitu banyak mengenyam pendidikan tinggi setara doktor, memang menjadi fonema baru yang menariik. Bila generasi 70-80-an kalangan anak muda Muslim (santri) hanya berpendidikan setara S1 saja, pada peripde 80-90-an, kala itu sudah banyak sekali yang bergelar S3 dari berbagai universitas dalam dan luar negeri.

Maka, bila membayangkan apa yang dianalisis Kuntowijoyo dan Nurcholish Madjid sekitar dua puluh tahun silam, pada periode masa kini jelas sudah sangat berubah. Yang paling luar biasa lagi berpengaruh adalah kemudian hadirnya teknologi informasi melalui internet. Dunia menjadi berubah  benar-benar tanpa batas. Eksistensi negara kian hanya sekedar menjadi salah satu bagian 'kampung dunia' yang saling terhubung. Istilah keren lainnya, dunia benar-benar sudah dilipat.


Alhasil, janganlah heran bila hari-hari ini muncul perbuahan wajah yang luar biasa pada kaum muda Indonesia masa kini. Mereka benar-benar muncul sebagai 'manusia baru' yang amat berbeda dengan sosok generasi pada dua dasa warsa silam ketika analisa tersebut dibuat. Mau tidak mau anak muda Muslim menjadi bagian warga dunia. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mereka bisa bertemu dan berkomunikasi secara langsung di mana dan kapan saja. Contoh gampang ini beda dengan generasi 'bapaknya' yang masih serba manual dan analog. Dan kelompok generasi milenial Muslim ini ditakdirkan yang menyesaki suasana hidup ketika dusun telah berubah menjadi perkotaan serta lebih hidup makmur dan serba mudah dalam kehidupan serba digital.

Akibat perubahan lingkungan sosial itu, maka ekpresi hidupnya pun berubah. Mereka tak gampang didoktrin dan hidup dengan pola pikir sendiri. Mereka tak bisa didekte ala 'dipecut dan diberi kaca mata kuda'. Mereka bisa langsung mengecek segala klaim dari generasi sebelumnya dengan sebuah kamus segala hal moderen yang bernama 'Google' lewak koneksi internet yang mudah didapatkan. Melalui media itu mereka benar-benar menjadi individu yang dapat menjadi manusia yang lebih sempurna. Mereka seakan melengkapi daur hidup evolusi era manusia berikutnya. Ini karena generasi milenial Muslim ini sudah melompat teramat jauh sejak era manusia zaman moderen yang dimulai dari revolusi industri pasca ditemukannya mesin cetak ala Gutenberg itu.

Lompatan raksasa itulah yang kini mau tidak mau harus dipakai sebagai pisau analisa era generasi yang diistilahkan sebagai 'Muslim Tanpa Masjid itu'. Apa yang ada dibenak mereka mengenai pengertian dan fungsi entitas masjid sudah tak sama bahkan sama sekali berbeda dengan masjid yang ada dalam benak generasi sebelumnya. Guru agama, ustaz, ulama, tak lagi sosok yang dengan ekpresi konservatif dan galak yang suka memukul pakai batang lidi bambu ketika bapaknya dahulu belajar mengaji di suraunya 'wak haji'. Semua kini sudah banyak tercampakkan jauh dan telah berubah menjadi sekolah sistem kelas moderen yang gemar memakai istilah bahasa asing. Metode ajar baca Alqurannnya tak lagi memakai model klasik ala Bahgdadi, tapi mereka akbrad dengan cara mengaji baru ala Iqra dan sejenisnya yang dahulu dipelopori oleh ustaz asal Kota Gede Yogyakarta, As'ad Human. Kitab dan buku berubah jadi papan sabak moderen, yakni latop dan tab komputer dengan berbagai macam variasinya.


Begitu pun dengan cara mereka berinfak, zakat, infaq, hingga sadaqah. Mereka tak lagi pergi para ke rumah kaum tua yang paham agama, tapi mereka bentuk lembaga dan yayasan filantropi. Cara pakaian juga tak bisa didikte dengan hanya mengidentikan memakai kain sarung, jubah, atau celaka pansi, tapi bebas saja. Bahkan, aneka simbol pakaian yang ada di zaman lalu mereka rajut kembali dan ubah modelnya dengan bahan dan potongan kain baru. Malah mereka tak sungkan memakai pakaian yang dahulu dikenakan oleh orang dengan sosok dengan simbol tertentu dan  kini kemudian menjadikannya sebagai hal atau pemandangan kesehariannya yang biasa saja.

Maka jangan heran serban misalnya, bukan lagi pemandangan 'angker' seperti berimajinasi pejoratif layaknya sindrom mental yang diidap oleh generasi pendahulunya. Mereka bawa mode pakaian ini dalam bentuk baru bahkan hingga ke atas pentas musik rock yang dahulu kerap dicap urakan. Pengajian pun kini berubah layaknya konser akbar dan festival. Mereka bersaing dengan pertunjukan masa non agama yang berkarcis mahal. Mereka ternyata bisa menjual pengajian dalam arti yang lebih elegan dibanding generasi sebelumnya yang serba gratisan. Pengajian kini bertiket serta menjadi ajang gerakan sosial.

Contoh semua ini terjadi pada fenomena 'Hijrah Fest' yang pada tiga hari diakhir pekan lalu usai digelar. Tanpa dinyana dan disangka tiket acara pengajjian yang dikemas dengan model  baru itu menciptakan histeria massa bersaing dengan konser musik yang ada pada pekan yang sama: Konser super grup Rock Gun & Roses atau konser Mariah Carey. Area gedung konprensi kaum elit yang ada di bilangan komplek Gelora Senayan itu mereka jadikan area masjid dadakan. Gedung yang dahulu dibikin untuk ajang berbagai macam konprensi internasional, seperti Konprensi Negara Non Blok tersebut kini menjadi tempat pengajian baru. Di sini imajinasi berubah total layaknya kisah cerita pendek klasik karya AA Navis: Robohnya Surau Kami. Kenangan akan imajinasi sosok surau yang lama benar-benar lenyap dari ingatan mereka. Pandangan akan kesan usang dan berdebu atas sosok ajaran agama berganti serta  hadir dengan sosok surau atau masjid baru yang tampil serba mengkilap dan mengikuti gerak zaman.


Pengamat sosial keagamaan, Fachry Ali , dalam sebuah perbincangan menengarainya sebagai perubahan dahsyat dalam posisi penghayatan keagamaan generasi yang kini disebut Muslim milenial itu. Bayangan norma atau 'totem' lama di mana antara agama, kompetensi individual, dan lmu pengetahuan yang dikesankan terus bertarung meniadakan ternyata terbukti tak berlaku lagi. Ketiga hal itu ternyata bisa berjalan selaras serta saling melengkapi.

''Uniknya dalam hal ini membuktikan apa yang dikatakan profesor dari Jepang. Nakamura, yang meneliti gerakan moderen Islam Indonesia. Pada disertasinya tentang sebuah organisasi besar umat Islam itu, dia mengatakan masa depan Indonesia ternyata terletak pada Islam. Nah, fenomena Hijrah Fest itu membuktikan bahwa Islam yang sebenarnya menjadi tulang punggung persatuan bangsa yang disebut Indonesia Raya itu,'' kata Fachry Ali.

Selain itu, Fachry  juga mengatakan hal ini juga membuktikan bila tidak ada Islam maka yang akan hadir malah hanyalah negara-negara yang bersifat etnisitas, wangsa/keluarga, kedaerahan. Maka di bekas wilayah yang dahulu disebut Nusantara, maka pada masa kini hanyalah akan muncul sebutan negara Sumatra, Sunda, Kalimantan, Ternate yang itu dikuasi dan diperintah oleh kalangan sebuah klan atau keluarga. ''Berkat adanya Islam itulah semua perpecahan bisa dicegah. Tinggal kini kita mewarnai dan menyemaikan rona atau ekpresi Islam yang seperti apa yang kita inginkan. Jadi Islam itulah yang menjadi pengikat dari alam bawah sadar manusia Indonesia masa kini.''

Pada tesis lain, misalnya dari sejarawan MC Ricklefs , Fachry lebih jauh mengatakan bila Indonesia masa kini adalah sudah sangat Islami. Bahkan ke depan akan semakin dalam terpengaruh nilai ajaran agama Islam. Dengan mencontohkan apa yang terjadi di Jawa, proses Islamisasi Indonesia (Jawa, dalam hal ini) penelitian ini sudah begitu mendalamnya sehingga tak tersedia jalan untuk negara ini bisa kembali ke masa-masa yang terjadi pada generasi sebelumnya ketika Islam masih dianggap setipis lapis kulit ari saja.'' Dari temuan Ricklefs tentang Islam di Jawa itulah kita bisa memotret situasi Indonesia masa kini,'' katanya.

Pada sisi lain, lanjut Fachry, adanya Hijrah Fest seharusnya juga dapat menjadi ajang auto kritik terhap peran ulama dan tokoh kegamaan masa kini. Mereka yang larut dalam politik serta mengabaikan espresi umat sudah tak lagi menjadi sandaran batin generasi milenial. Mereka harus ingat generasi masa kini punya pemahaman dan logika sendiri yang tak bisa bisa lagi sepenuhnya didikte atau didoktrin pihak lain.


Maka sebelum menutup tulisan ini menjadi tepat bila mengutip sosok penting di ajang Hijrah Fest 2018 ini: Arie Untung. Apalagi banyak informasi yang beredar bila banyak rapat untuk penyelenggaraan acara ini diselenggarakan di rumahnya yang ada di bilangan Jagakarsa, Jakarta. Rumahnya yang luas memang cocok untuk menjadi ajang rapat persiapan acara festival tersebut. Tulisan Ari Untung tentang acara  Hijrah Festival pun telah menjadi viral di media sosial. Isinya seperti ini:

Ada jutaan doa

Ada ribuan saudara baru

Ada puluhan tatoo masa lalu telah terhapus

Ada 18 syahadat (diantaranya dari Jepang dan Georgia)

Ada puluhan komunitas bertambah menjadi ratusan copy darat

Ada kiriman sinyal penonton online dari Jepang, Rusia. A merika. Taiwan, Qatar, Inggris benua Eropa, Asia semua yang bersaudara dengan kita

Ada ratusan pengusaha Muslim merasakan nikmatnya berbisnis

Ada puluhan Aplikasi Muslim terluncur

Ada ada ada.. bingung mau tulis ada apa lagi

Yang ada sebenarnya cuma satu .

Ada ALLAH

Jangan puji penyelenggaranya

jangan puji komunitas dibelakangnya

Jangan puji adab kesopanan pengunjungnya

Mereka ini cuma cukup didoakan keistiqamahnnya

Pujilah hanya ALLAH

(karena panitia semalam gak berhenti hentinya menangis karena kalau Allah nggak ridha mungkin saja acara ini nggak lancar, semoga ini merupakan sinyal darinya)

Ridhai kami ya Rabbi. Luruskan niat kami hanya hanya kepadamu

masyaallah tabarakallah

hijrahfest .(republika)
Share:

Sempat Ditunda, Sidang Praperadilan Sukmawati Akhirnya Dimulai

sidang praperadilan kasus sukmawati

Koranmuslim.com – Sempat ditunda pekan lalu, sidang praperadilan SP3 kasus penodaan agama yang diduga dilakukan oleh Sukmawati Soekarno Putri akhirnya digelar. Sidang perdana pada Senin (12/11/2018) ini, beragendakan pembacaan permohonan praperadilan dari pihak pemohon.

Di awal persidangan, hakim Dedy Hermawan terlebih dahulu menanyakan surat kuasa kepada pihak-pihak yang hadir di persidangan. Pemohon praperadilan, Azzam Khan di awal persidangan belum hadir. Ia memberikan kuasanya kepada beberapa pengacara yang tergabung dalam Heterogen Robohkan Rasis (HRS), diantaranya Damai Hari Lubis, Nasrullah Nasution, Wisnu Rakadita, dan Sumadi Atmadja.

Pemohon mengajukan praperadilan ke muka persidangan dengan tiga termohon, yakni Subdit I Direktorat Tindak Pidana Umum (Tipidum) Bareskrim Polri sebagai Termohon I, Direktorat Tipidum Bareskrim Polri sebagai Termohon II, dan Kapolri sebagai Termohon III.

Para termohon yang dimaksud tidak hadir dan memberikan kuasanya kepada tiga orang. Dari ketiga termohon, hanya Kapolri yang belum memberikan surat kuasanya. Hal ini pun sempat menjadi pertanyaan oleh majelis hakim.

“Ini Termohon III belum ada surat kuasanya?” tanya Dedi muka persidangan.

Salah satu dari tiga kuasa hukum termohon, menjelaskan bahwa surat kuasa dari Kapolri masih dalam proses. Namun, dia mengatakan bahwa berkas surat kuasa sudah sampai di meja Kapolri.

Karena menghitung masa persidangan yang hanya 7 hari, maka Majelis Hakim memutuskan bahwa persidangan perdana tetap dilanjutkan dengan Termohon III, yakni Kapolri maupun yang diamanahi surat kuasa dianggap tidak ada.


“Ini tadi kita keberatan, Kapolri sebagai komandan tertinggi kok belum menyiapkan surat kuasa yang seharusnya sudah diberikan. Sementara Kasubdit dan Direktur (Tipidum)-nya sudah,” ungkap Hari usai persidangan.

“Ini sudah seminggu, dan ini bukti bahwa Kapolri tidak dalam keadaan berhalangan, ini tidak ada alasannya tadi dia sakit atau apa, hanya tidak ada surat kuasanya,” tambahnya.

Berbagai advokat yang tergabung dalam Heterogen Robohkan Rasis (HRS) mengajukan praperadilan kasus Sukmawati. Sebab, secara tiba-tiba kasus dugaan penodaan agama Sukmawati dihentikan oleh pihak kepolisian.

Sukmawati membacakan puisi berjudul “Ibu Negara” di acara Indonesian Fashion Week beberapa waktu lalu. Dalam puisi tersebut, putri Presiden Soekarno ini menyinggung masalah adzan dan cadar.(kiblat)
Share:

Para Dai Dituntut Aktif Sebarkan Konten Dakwah di Media Sosial


Koranmuslim.com -  Para pendakwah dituntut aktif mengisi konten dakwah di media sosial. Upaya ini sebagai cara menjawab tantangan perubahan di era milenial dan digital seperti sekarang.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis saat membuka Halaqah Dakwah Nasional dan Literasi Keuangan Syariah di Hotel Acacia, Jakarta, Rabu (07/11).
“Facebook tak terhindarkan, twitter tak terhindarkan, instagram tak terhindarkan, kalau kita tidak aktif di media sosial, maka yang ada di ruang media sosial hanyalah hal-hal yang buruk atau hal-hal yang tidak bisa mengarah kepada kebaikan yang bukan keteladanan,” ujar dia.
Menurut Kiai Cholil, di tengah zaman yang mendorong seseorang terus eksis ini, para dai memang dihadapkan kekhawatiran riya’. Tetapi, dia meyakini melalui penataan hati, kekhawatiran seperti itu bisa dihindari dengan niat mengisi ruang publik melalui kebaikan-kebaikan yang harus diutamakan.
“Zaman seperti ini, kita tidak bisa diam, kebenaran diam itu tidak bisa, karena kita takut riya’ lalu diam tidak bisa, yang perlu ditata hanya hatinya bahwa kita tidak boleh riya’, tapi ruang publik itu harus diisi dengan kebaikan-kebaikan,” ujar dia.
Cara seperti ini, lanjut Kiai Cholil, mau tidak mau harus dilakukan. Hal ini melihat fenomena dai yang tampak akhir-akhir ini. Dulu, seorang dai berpengaruh bisa diukur dari banyaknya majelis taklim dan waktu mengajarnya, sehingga dia bisa kenal dengan muridnya. Namun hal seperti itu saat ini sudah tidak begitu berlaku karena perubahan tadi.
“Sekarang yang banyak mengisi taklim bisa diukur, di youtube viewernya berapa, di twitter followernya berapa, ini menjadi kuantitatif di era milenial,” ungkapnya.
Meskipun harus mengisi media sosial, dia mengingatkan para dai agar tetap menjaga nilai-nilai luhur yang sebelumnya sudah dibawa. Para Dai juga bisa menengok fatwa medsosiah MUI sebagai pedoman. Dengan begitu, meskipun cara berdakwah berbeda, nilai dan pelajaran yang disampaikan bisa tetap sama.
“Model dan cara dakwahnya harus sesuai perkembangan zaman tapi value, nilainya tetap harus ada yang kita bawa.” katanya. (Mui)
Share: