Menang Kalah Versi Dunia

Hormati Keputusan MK Prabowo Tetap Cari Celah Hukum

PPMI:Cetak Pengusaha Sukses Dengan Amal Shaleh

Pernyataan Forum Umat Islam (FUI) Terkait Video Wanita Membawa Anjing Ke Dalam Masjid

PEMILU 2019 : Seruan dan Himbauan Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Jumat, 11 Mei 2018

Amien Rais Sebut Indonesia Bangsa 'Pekok'

amin rais ke kpk

Koranmuslim.com - Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais kembali menyoroti masalah undang-undang di Indonesia yang dianggap pro asing itu merugikan rakyat. Salah satunya adalah UU migas. Oleh karena itu, ia menyebutkan bangsa Indonesia adalah bangsa pekok (bodoh). Apa alasannya?

"Ini ada UU yang aneh dan ajaib. Bahwa gas alam di perut bumi Indonesia, itu boleh digunakan oleh bangsa sendiri setelah bangsa lain dicukupi kebutuhannya," kata Amien saat mengisi ceramah di Masjid Muthohirin Yogyakarta, Kamis (10/5/2018) malam.

Menurutnya, kebijakan tersebut aneh. Sebab, kebutuhan dalam negeri dikorbankan hanya demi memenuhi kebutuhan negara lain, seperti Tiongkok, Taiwan, dan Singapura.

"Ini mesti bangsa pekok (bodoh)," sindirnya.

Akibat kebijakan tersebut, lanjut Amien, Pabrik Pupuk Iskandar Muda di Aceh berhenti beroperasi karena tidak mendapatkan suplai bahan bakar penggerak mesin. Padahal di dekatnya terdapat tambang gas alam.

"Ini sebuah keanehan yang tidak masuk akal. Itu (gas alam) berkontainer-berkontainer dibawa oleh truk dari koorporasi gas, sebelum dibawa ke China itu melewati (Pabrik) Pupuk Iskandar Muda," ungkapnya.

"Jadi pabrik pupuk di Aceh itu kelenger, tidak bisa berfungsi karena gasnya yang hanya beberapa puluh kilometer dari (pabrik pupuk) itu dijual dulu ke China," lanjutnya.

Selain UU migas, kata Amien, kasus Freeport menjadi contoh lainnya dari kebodohan bangsa Indonesia. Sebab, hasil tambang emas terbesar di dunia tersebut hanya sebagian kecil yang bisa dinikmati bangsa ini.

"Kita ini, karena bangsa jongos membuat sebuah kesepakatan kontrak karya itu," ungkapnya.

"Tidak ada bangsa yang lebih pekok dari pada bangsa kita," tandasnya.

Amien juga meminta umat Islam di Indonesia lebih berpartisipasi dalam perpolitikan nasional. Harapannya umat Islam di indonesia tidak terus tertinggal, baik dari segi ekonomi, politik dan segi lainnya.

"Umat Islam di Indonesia ini (88,5 persen dari jumlah penduduk), itu perlu punya partisipasi, punya hak menentukan negeri ini di dalam kekuasaan politik," kata Amien.

Amien tidak menyebutkan siapa mereka yang dimaksudnya. Namun, sekali lagi dia mengingatkan agar umat Islam di Indonesia lebih berpartisipasi di kancah politik. Dengan harapan umat Islam bisa ikut andil dalam menentukan arah pembangunan.

Ia mengatakan, kini mayoritas umat Islam di Indonesia hanya bisa menjadi penonton. Penggerak ekonomi, pemegang kendali kekuasaan elit politik jarang dipegang kalangan umat Islam. Akibatnya, umat Islam di Indonesia semakin terpinggirkan.

"Sekarang ini jelas sekali umat Islam itu menjadi umat yang marginal, di pinggiran. Karena hampir semua kehidupan nasional tidak ada di tangan umat Islam. Pertambangan di tangan mereka, pertanian di tangan mereka, perkebunan mereka," sebutnya.

Selanjutnya, Amien menerangkan, ajakannya agar umat Islam di Indonesia lebih berpartisipasi dalam berpolitik bukan berarti dia mendukung ditegakkannya sistem pemerintahan berdasarkan syariat Islam di indonesia.

"Jadi, saya, kita Muhammadiyah itu memang tidak ada, seperti NU juga, tidak ada pikiran membangun negeri Indonesia ini menjadi negara syariah, ini tidak. Saya juga menolak," tegasnya.

"Karena kalau kita bicara negara syariah, langsung TNI, Polri dan kaum nasionalis macam-macam itu yang akan masang kuda-kuda. Oleh sebab itu, opsi ini (membangun negara syariah) tidak kita ambil," pungkas Amien.
Share:

Tokoh perancis serukan ubah Al Quran



berita islam terkini

Pada tanggal 21 April 2018, sebuah manifesto yang ditandatangani oleh sejumlah tokoh di Perancis mendesak kaum muslim untuk mengubah ayat-ayat tertentu dalam Alquran yang mereka anggap sebagai anti-Semit dan anti-Kristen.

Seruan kontroversial tersebut yang juga dikenal sebagai gerakan “rasis dan xenofobia” ditandatangani oleh sekitar 300 tokoh Perancis, di antaranya aktor Perancis Gerard Depardieu, mantan Presiden Nicolas Sarkozy, mantan Perdana Menteri Manuel Valls, dan lainnya.

Gerakan itu, menurut para ahli, dibuat untuk menargetkan umat Islam sebagai reaksi atas bertambahnya jumlah kaum Muslim yang terus meningkat.

Dilansir mediaumatnews, dalam majalah Atlantic, seorang imam Perancis di Grand Mosque Bordeaux, Tareq Oubrou, mengatakan bahwa interpretasi Alquran oleh mentalitas para penandatangan itu “adalah interpretasi palsu yang dipromosikan oleh orang-orang Perancis yang sangat radikal untuk memerangi kaum muslim dengan cara menghapus teks-teks suci dari konteks sejarah mereka.”

Menurut keyakinan kaum muslim, Alquran secara Ilahiah diturunkan kepada nabi terakhir, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, sebagai sebuah kitab yang diyakini sebagai versi terbaru dari kitab-kitab suci sebelumnya.

“Kaum muslimlah yang membawa kemajuan peradaban selama seribu tahun ketika mereka berada di depan pintu gerbang Eropa. Dan bukankah Quran yang diyakini umat Islam?” tanya seorang imam.

Setelah seruan kontroversial yang menyalahkan Islam atas gelombang “Baru anti-Semitisme” tersebut, 30 Ketua Dewan Pengurus Masjid dan tokoh muslim lainnya menerbitkan sebuah seruan di Le Monde yang menyebutkan bahwa Islam sedang “dirampas oleh para penjahat”. Demikian sebagaimana dilaporkan dari Associated Press.

Sebuah lembaga Islam Turki menambahkan, seruan untuk mengubah kitab suci Alquran tersebut adalah kampanye kotor dan provokatif yang menjadikan kaum muslim sebagai target utama. [inspiradata.com]

Share: