Selasa, 11 Desember 2018

Pencitraan (Hoaks), Nifaq Modern

Pencitraan (Hoaks) , Nifaq Modern



Oleh. Idrus Abidin.

Nifaq adalah penyakit hati yang berawal dari kedengkian terhadap Islam, Rasulullah dan semua pengikutnya yang berusaha berislam secara total. Awalnya menimpa Abdullah bin Ubai bin salul. Sebabnya, dia disepakati oleh penduduk Madinah; Aus dan Khazraj sebagai pemimpin tertinggi Madinah (raja) sebelum kedatangan Rasulullah.

Namun, suasana begitu cepat berubah disebabkan oleh adanya 6 orang Madinah yang menunaikan ibadah haji dan terpincut dakwah Rasulullah.  Mereka inilah cikal bakal muslim Madinah yang didik oleh da'i pertama Madinah, Mus'ab bin Umair.  Mereka ini pula dalang di balik hijrahnya Rasulullah ke Madinah, yang membuat kejang-kejang Abdullah bin Ubai; sang gembong munafik. Bahkan, Islam berkibar dengan cepat di kota ini hingga anak dan istri Abdullah pun menjadi kader dan pentolan Islam.

Biodata Abdullah bin Salul (Gembong Munafik)

Lahir dan besar di Yatsrib (Madinah). Keahliannya, pimpinan tertinggi suku Khazraj, ahli pidato, punya leadership yang kokoh, kaya karena berbisnis dg kalangan Yahudi Bani Qainuqa. Bahkan, dialah tokoh yang direkomendasikan Yahudi sebagai pilihan tepat agar kepentingan bersama antara Yahudi dan orang-orang Arab Madinah bisa berjalan mulus.  Bahkan, Yahudi terus mem-backup Abdullah secara ekonomi dan politik demi maksud dan tujuan lebih besar. Status,  menikah. Memiliki  beberapa anak, termasuk sahabat mulia Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin salul. Sahabat yang terkenal baktinya kepada kedua orangtuanya. Kedudukan politik, tokoh pertama dan terakhir yang disepakati suku Aus dan Khazraj sebagai raja. Walaupun takdir berbicara lain.
Sepak terjang Abdullah bin Ubai.

Demi untuk memuluskan rencana busuk dan mengungkapkan kedengkiannya, Ibnu salul memanfaatkan beragam kebohongan. Sehingga sikap ini menjadi sikap resmi dalam madrasah intelektual munafik. Selain itu, pengkhianatan, perselingkuhan dengan kekuatan politik luar dan beragam strategi dilancarkan.

Pencitraan (Hoaks) adalah modal utama kemunafikan.


Karena berhadapan dengan Islam yang ajaran dasarnya adalah keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, maka kata kunci ini menjadi password penting bagi kaum munafik untuk terus melakukan pencitraan (kebohongan dan ketidakjujuran)  demi merusak Islam dari dalam dan bisa menyelamatkan diri dari  berbagai masalah. Termasuk dalam hal ini, bersumpah penuh kepercayaan diri bahwa mereka adalah muslim orisinil. Walaupun kenyataannya, segala keburukan merekalah sumber dan pionirnya. Seperti :
1. Menghina Rasulullah secara pribadi. Seperti, ketika Rasulullah lewat dg kendaraannya, Ibnu salul berkomentar penuh dengki, "Jangan ganggu kami dengan debu kendaraanmu" tapi dimaafkan oleh Rasulullah atas saran Sa'ad bin Ubadah. Ini terjadi sebelum perang Badar.

2. Tidak sepakat dg usulan pemuda agar perang dilakukan di luar kota ketika diadakan musyawarah sebelum perang uhud. Dia ingin perang dilakukan di dalam kota saja sesuai harapan kalangan senior.

3. Mundur bersama 300 orang pasukan sebelum sampai ke wilayah Uhud. Akhirnya pasukan muslimin tinggal 700 personil dari total 1.000 orang, menghadapi 3.000 pasukan Quraisy. Alasannya, rasul tidak mendengar sarannya. Lebih mendengar kalangan mudah dan merasa perang Uhud itu hanya bunuh diri. Inilah fase awal munculnya gerakan Nifaq secara otonom di bawah pimpinan Abdullah bin Ubai. Alasan hanya dibuat-buat agar selamat, padahal hakikatnya adalah pencitraan demi mencari popularitas (jabatan), menyembunyikan sikap dualisme (Nifaq) dan tampil berbeda agar mudah dikenal (berbedalah supaya engkau terkenal).

4. Membela pengkhianatan Yahudi Bani Qainuqa ketika perang Ahzab.

5. Di perang Bani Qainuqa, setelah Rasulullah memenangkan peperangan, beliau beristirahat di wilayah Muraisi. Ketika ke sumur, ada 2 orang pasukan berebut air; Jahja al-Gifari (budak Umar bin Khattab) dan Sinan al-Juhani. Mereka bertengkar hingga Sinan berteriak minta tolong. Ibnu salul mendengar kejadian ini lalu berkomentar dg penuh emosi di hadapan kaum munafik, "sungguh kalangan Muhajirin itu telah merecoki kami sebagai penduduk Madinah. Kita dan mereka seperti kata pepatah, gemukanlah anjingmu, lama kelamaan dia sendiri akan menerkammu. Nanti kalau kita pulang ke Madinah, kita yang terpandang ini akan mengusir orang-orang hina itu (Rasulullah dan kaum Muhajirin). Inilah hasil perbuatan kalian. Kalian menyerahkan negeri ini ke mereka. Bahkan harta kalian pun dibagi dg mereka. Jika kalian memboikot mereka, pasti mereka pergi mencari tempat lain." Inilah ungkapan kedengkian yang terus diproduksi Ibnu salul di setiap momen yang ada.

6. Sumber fitnah pada peristiwa hadits ifki (hoaks) yang merusak citra keluarga Rasulallah (Aisyah).

7. Pembangunan masjid Dhirar sebagai markas untuk memerangi kaum muslimin dari dalam, 
dibiayai oleh kepentingan Romawi, sesaat sebelum pemberangkatan kaum muslimin ke Tabuk untuk perang melawan tentara Romawi. 

8. Dll.

Fenomena Nifak;  dulu hingga Sekarang.


Nifaq selalu tampil dengan gaya yang sama; dulu dan sekarang. Seperti utamanya:

1.  Loyal kepada musuh Islam dan membenci Islam dan semua simbolnya. Walaupun merasa diri muslim orisinil. Bahkan didukung dengan sumpah yang mempesona, tampilan fisik yang serba mewah dan alasan2 yang penuh hoaks.

2. Mengaku reformis sejati. Padahal mereka sumber kerusakan dan awal malapetaka (pertumpahan darah) melalui tehnik adu domba.

3. Menghina kaum muslimin dengan beragam tuduhan. Radikal, keras, anti NKRI (merecoki Madinah), trans nasional (kaum Muhajirin di era nabi). Nyinyir terhadap aksi 212, menganggap kaum muslimin yang lebih kuat imannya banyak yang tidak terlibat di 212. Padahal, ketidakhadiran secara fisik bukan jaminan bahwa mereka tidak hadir secara semangat (niat). 
Semoga kita diselamatkan dari Nifaq ideologi dan Nifaq praktis (Amali) dengan hidayah dan Taufik dari Allah. Amiiiin.
Share:

0 comments:

Posting Komentar